![]() |
source: pinterest |
Marissa
memang tengah melewati situasi yang kritis. Bukan kritis kondisinya, hanya
jiwanya tergoncang cemas, sedikit. Ia duduk tepat di samping Jane. Lagi-lagi
jantung Marissa berdegup kencang. Perasaannya kacau balau. Detik-detik keberangkatan
udah gak bisa ngebantu Marissa mengenang saat-saat terakhir dia di Selangor,
Malaysia. Marissa menarik nafas dalam-dalam,
menahannya beberapa detik dan dihembuskannya saat ia sudah mencapai batasnya. Begitulah cara Marissa mengurangi rasa stres yang akhir-akhir ini menghantui.
menahannya beberapa detik dan dihembuskannya saat ia sudah mencapai batasnya. Begitulah cara Marissa mengurangi rasa stres yang akhir-akhir ini menghantui.
Mama yang tau sikap Marissa itu langsung menggenggam tangan
Marissa. Dingin, hanya itu yang terasa. Mamah mengernyit menatap Marissa yang
memandang ke angkasa sana penuh acuh.
"
Marissa? Tangan kamu dingin. Mau pesan coffee milk kesukaan kamu?"
Suara
mama terdengar damai tapi rupanya tak didengar oleh Marissa. Mungkin karena ia
masih sedikit tersinggung dengan kata-kata mama kemarin yg sempat memojokannya.
"
Loh kok diem??” Lanjut mamah, “ Oh...mama tau pasti kamu gak sabar kan pengen
cepet sampai di Jakarta? Tenang,bentar lagi pesawat landing kok."
Marissa
melepas tangannya dari genggaman mamah. Ia sungguh tak sependapat dengan mama
tentang pikirannya barusan.
"
Gak, dari awal kan Marissa dah gak setuju buat balik lagi ke Jakarta."
Mama
terdiam sejenak begitu juga dengan Marissa. Mama tahu tentu gak semudah
membalikkan telapak tangan untuk memperbaiki semuanya. Tapi balik lagi, itu
semua rencana mama yg belum bisa dimengerti sama Marissa. Padahal ini yang
terbaik.
to be continued ⏩
Tidak ada komentar
please leave your comment