Sabtu, 24 April 2010

Perfect diary P.2

Marissa emang lagi melewati sikon yg kritisn (bukan kritis kondsina yg koma ato duitna yg lagi kering. Bukan, bukan itu) ia duduk tepat dsamping Jane. Lagi-lagi jantung Marissa berdegup kencang. Perasaannya kacau balau. Detik2 keberangkatan udah ga bisa ngebantu Marissa mengenang saat2 terakhir dia d Selangor. Marissa menarik nafasna dalam2, menahanna beberapa detik dan dihembuskannya saat ia sudah tak tahan lagi. Begitulah cara Marissa mengurangi rasa stresnya.
Mama yg tau sikap Marissa itu langsung menggenggam tangan Marissa yg dingin dan angkat bicara." Marissa? Tangan kamu dingin. Mau pesan coffee milk kesukaan kamu?"suara mama terdengar damai tapi rupanya tak didengar oleh Marissa. Mungkin karena ia masih sedikit tersinggung dgn kta2 mama kemarin yg sempat memojokanna." Loh kok diem?? Oh...mama tau pasti kamu gak sabar kn pengen cepet2 sampai di Jakarta? Tenang,bentar lagi pesawat landing ko."
Marissa melepas tangan mama yg baru aja menggenggam tangannya. Ia sungguh tak sependapat dengan pendapat mama tentang pikirannya barusan." gak, dari awal kan Marissa dah gak setuju buat balik lg k Jakarta." mama terdiam sejenak begitu juga dengan Marissa. Mama tahu tentu gak semudah membalikkan telapak tangan untuk merepair semuanya. Tapi balik lagi, itu semua rencana mama yg belum bisa dimengerti sama Marissa..

0 testimonial:

Poskan Komentar

please leave your comment

 
© Copyright 2035 Notes Hatiku
Theme by Yusuf Fikri